Medan, Sumatera Utara MediaOrganisasiSiberIndonesia.comPelayanan SPBU 14.202.1141 Pasar 3 Marelan kembali menuai keluhan warga. Seorang warga Marelan bernama Charlie (44) mengaku diperlakukan tidak adil saat hendak mengisi BBM jenis solar subsidi pada.Jumat (30/1/2026).
Charlie mengungkapkan, dirinya telah mengantre selama kurang lebih 15 menit. Namun saat tiba di depan pompa, petugas SPBU menyampaikan alasan bahwa sistem jaringan sedang mengalami gangguan sehingga pengisian solar tidak bisa dilakukan pada kamis 29/01/2026.
“Petugas bilang jaringan error dan saya diminta menunggu 15 menit lagi,” ujar Charlie kepada wartawan. Setelah menunggu sesuai arahan petugas, Charlie kembali mencoba mengisi solar. Namun lagi-lagi ia diminta menunggu lebih lama dengan alasan yang sama.
“Kali ini saya disuruh tunggu satu jam lagi. Saya putar-putar mobil di kawasan Marelan sambil menunggu,” katanya. Ironisnya, setelah menunggu satu jam penuh dan kembali ke SPBU, Charlie justru mendapat jawaban berbeda. Petugas menyebut stok solar subsidi telah habis.
“Sudah nggak masuk akal. Katanya jaringan terganggu, tapi kendaraan lain bisa mengisi solar. Kalau jaringan error, seharusnya semua tidak bisa mengisi,” tegas Charlie dengan nada kecewa. Charlie menilai pelayanan SPBU tersebut tidak profesional dan terkesan tebang pilih dalam melayani masyarakat kecil yang membutuhkan solar subsidi.
“Ini namanya menyengsarakan rakyat. Solar subsidi seharusnya untuk masyarakat, bukan dipersulit seperti ini,” tambahnya. Atas kejadian tersebut, Charlie secara resmi telah mengadukan SPBU 14.202.1141 Pasar 3 Marelan ke pihak Pertamina melalui Humas Pertamina Pusat. Aduan tercatat dengan nomor laporan 20260129053244742.
Hingga berita ini diturunkan, pihak pengelola SPBU 14.202.1141 Pasar 3 Marelan belum memberikan klarifikasi resmi terkait keluhan warga tersebut. Masyarakat berharap Pertamina dan instansi terkait segera turun tangan untuk melakukan evaluasi dan pengawasan terhadap pelayanan SPBU agar penyaluran BBM subsidi tepat sasaran dan tidak merugikan rakyat kecil, tuturnya.
(R. Duha).



